Islam memberikan penghargaan kepada wanita dengan
sebenarnya, dan membukakan baginya teladan yang mulia dan nilai-nilai akhlak
yang tinggi. Dalam pandangan Dr. Abdul Hakam ash-Sha’idi (2001), wanita itu
mencerminkan setengah masyarakat manusia, karena mereka adalah pasangan setara
laki-laki. Wanita bagi laki-laki adalah ibu, anak wanita, nenek, saudara
kandung, atau bibi.
Pada konteks ini, maka wanita sebagai istri memegang
peranan penting dalam menjaga, memelihara ketentraman dan kemesraan keluarga
sebagai pilar yang mewujudkan sebuah keluarga sakinah. Lagian, dalam
kenyataannya wanitalah yang lebih dituntut untuk berusaha keras dalam
menyukseskan sebuah bahtera perkawinan. Hal ini wajar dan masuk akal, karena
secara psikologis wanita memiliki sensitifitas yang tinggi dalam menganalisis
kata-kata, baik yang terucap, maupun yang hanya berupa isyarat selama
menjalankan aktivitas berlabuh pada sebuah biduk pernikahan.
Untuk menggapai derajat perilaku yang seperti itu, Erry
Soekresno (1995), menyarankan beberapa kiat yang harus dilakukan, antara lain:
- Senantiasa mengevaluasi diri dan
melihat dampak perlakuannya terhadap suami. Berusaha terus untuk menjadi
pendengar dan observer yang aktif terhadap segala kebutuhan suami.
- Berusaha untuk tetap
menghidupkan perasaan cinta yang sering tertutupi oleh berbagai perasaan
negatif saat marah, sedih atau kecewa. Hindari sikap sombong dan keras
kepala. Banyak mengingat kenangan indah yang dialami bersama.
- Jangan membebani suami dengan
masalah pribadi. Muslimahlah yang paling bertanggung jawab untuk
menyelesaikannya. Jangan menuntut perhatian yang berlebihan.
- Cinta adalah menerima, bukan
mengubah. Selalu siap menerima segala kekurangan suami. Perubahan bisa
terjadi asal datang dari suami jika ia telah merasa diterima dan dicintai
apa adanya.
- Jangan berharap daya magis
intuisi suami. Istri sendirilah yang bertanggung jawab untuk membuat suami
mengerti keinginan dan harapan-harapannya.
- Terbukalah terhadap suami.
Komunikasikan segala yang tersirat tidak hanya melalui kata-kata, tapi
juga tingkah laku dan sensitifitas (baca: keteladanan adalah bahasa
tingkah laku-Pen).
- Selalu mengikuti perkembangan
wawasan suami.
- Hormati komitmen pernikahan.
Jagalah diri ketika suami tidak ada.
- Jangan suka menuduh suami.
Apalagi mengkambinghitamkannya atas segenap permasalahan yang dihadapi.
- Mengikhlaskan pelayanan terhadap
suami karena Allah.
- Memaafkan kesalahan suami.
- Mampu memberi semangat,
menenangkan sekaligus mempesonakan suami.
- Tingkatkan rasa percaya diri
muslimah sebagai istri dengan memperluas wawasan keislaman, meningkatkan
kualitas keimanan, akhlak, perubahan penampilan fisik seperti mode rambut,
pakaian, dalam rangka ijtihad untuk di rumah dan di kamar tidur. Merawat
kulit muka dan tubuh, meningkatkan kebugaran.
Untuk mendapatkan hasil maksimal atas
perwujudan kiat-kiat tersebut, tentu harus dipedomani oleh keyakinan atas
kebenaran-kebenaran itu, yang sesungguhnya terinspirasi oleh sebuah kewajiban
istri terhadap suami sesuai ketentuan-Nya. Keyakinan ini dapat terpatri dalam
hati istri, manakala dalam akal-pikirannya telah terisi dengan ilmu-ilmu Allah.
Pada koridor hubungan suami-istri, maka dengan difungsikan
dan dikembangkannya potensi akal-pikiran itu akan melahirkan sebuah predikat
mulia dalam sebuah pernikahan, yaitu istri sebagai kekasih hati bagi suaminya.
Adapun buah dari telah digenggamnya predikat istri sebagai
kekasih hati bagi suaminya tersebut adalah akan melahirkan keyakinan berupa
mencintai suami karena Allah SWT, memelihara keutuhan cinta dan rasa hormat
suami, menjaga kecemburuan suami, memberikan ketentraman di hati suami dan
mengerti hakikat cinta pada suami.
Pola demikian, paling tidak telah diperlihatkan oleh para
muslimah teladan di zaman Rasulullah saw. Di antaranya yang dapat disebutkan di
sini adalah Khadijah ra, Aisyah ra, Ummu Salamah, Zainab dan Fatimah binti
Rasulullah, Asma binti Abu Bakar, Khansa yang lebih dikenal dengan ibu para
syuhada, dan Atikah.
Akhirnya, hanya melalui akal-pikiran yang
dilejitkan dengan ilmu-ilmu Allah-lah, kita dapat memahami sebuah makna dari
aritmetika pernikahan. Itulah barangkali salah satu alasan mengapa Allah SWT
dalam Alquran (QS. 58: 11) menyebutkan bahwa dengan ilmu, maka seseorang akan
diangkat oleh Allah beberapa derajat. Wallahu’alam.*** {Arda Dinata}