📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
TAK bisa dipungkiri, lalat ternyata merupakan vektor yang banyak merugikan manusia. Lalat ini mempunyai peranan dalam mempengaruhi kesehatan manusia. Menurut Riana (1992), keberadaan lalat dapat menyebarkan mikroorganisme seperti bakteri, virus, protozoa, telur dan cyste cacing pada manusia, sehingga dapat menimbulkan infeksi penyakit seperti kolera, disentri, tifus, kecacingan, dan penyakit lain yang penyebarannya dapat diakibatkan oleh lalat.
Saat ini, diperkirakan tidak kurang telah ditemukan sekira 60.000 sampai 100.000 spesies lalat. Namun, dari jumlah tersebut ada beberapa spesies lalat yang mempengaruhi kesehatan manusia, di antaranya adalah lalat rumah (Musca domestica). Selain lalat rumah, ada lalat hijau (Lucilia sp.) yang juga dapat menularkan penyakit.
Perlu Tindakan
Melihat dari tidak kecilnya bahaya yang ditimbulkan oleh lalat, maka upaya pengendalian populasi kepadatan lalat di suatu daerah menjadi urgen untuk segera dilakukan langkah-langkah nyata dalam pengendaliannya. Tindakan pengendalian lalat dapat dilakukan, baik dengan cara fisik maupun kimiawi, misalnya dengan menggunakan insektisida.
Dalam catatan Direktorat Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Pengawasan Lingkungan Pemukiman/PPM dan PLP (1992), disebutkan bahwa sering kali upaya pengendalian lalat cenderung hanya untuk membunuh lalat saja, yang dalam waktu relatif singkat populasi lalat tersebut akan menurun. Akan tetapi, lalat-lalat yang masih tertinggal dan hidup, apabila menemukan tempat-tempat untuk berkembang biak, suatu saat akan mampu membentuk populasi baru sehingga upaya pengendalian akan sia-sia. Jadi, upaya pengendalian lalat seharusnya tidak hanya ditujukan pada populasi lalat yang dekat dengan manusia saja, tetapi juga harus pada sumber-sumber tempat berkembang biaknya lalat.
Langkah tersebut, tentu patut diperhitungkan dalam usaha pengendalian kepadatan lalat. Apalagi, mengingat kehidupan lalat itu (dalam berkembang biak) sangat tergantung pada kondisi lingkungan. Menurut entomolog, Soemarto, tempat yang paling disenangi oleh lalat untuk berkembang biak adalah tempat basah, benda-benda organik, tinja, sampah basah, kotoran binatang, dan tumbuh-tumbuhan busuk.
Pembubuhan Kapur Tohor
Berdasarkan parameter yang dikeluarkan Ditjen PPM dan PLP Depkes RI, tentang petunjuk pemberantasan lalat, apabila kepadatan lalat lebih dari 21 ekor, lokasi tersebut merupakan kategori populasi padat dan perlu upaya pengendalian dan perlu diadakan penanganan terhadap tempat-tempat yang menjadi sarang berkembang biaknya lalat.
Terkait dengan upaya pengendalian untuk menekan timbulnya populasi lalat yang tinggi, salah satu cara yang bisa kita lakukan yaitu dengan membubuhkan kapur tahor [Ca(OH)2] ke bagian atas tempat yang dijadikan lahan berkembang biaknya lalat, misalnya TPS yang menggunung di beberapa sudut Kota Bandung. Keefektifan dari penggunaan kapur tohor ini untuk menekan kepadatan populasi lalat yang hinggap di suatu tempat ini cukup singnifikan dan dapat dibuktikan di lapangan.
Apalagi, kita tahu keberadaan kapur tahor ini bersifat higroskopis, yaitu mempunyai kemampuan untuk menyerap air sehingga mengurangi kelembaban sampah. Selain itu, kapur tahor juga dapat menghilangkan dan menyerap bau, serta membunuh kuman. Terkait dengan masalah sampah, menurut Riana (1996), kapur tohor ini dapat menyusutkan sampah organik sampai 54,06 persen dari 1.540 gram sampah dengan 7,5 gram kapur tohor.
Sebagai contoh, pada tahun 2005 ketika penulis membimbing penelitian Rini Ariani, mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Siliwangi (Unsil) Tasikmalaya, di TPA Purbahayu Kec. Pangandaran, Kab. Ciamis, dengan mengambil sampel sampah organik. Satu sampel tanpa pembubuhan kapur tohor dan satu sampel lagi dengan dibubuhi kapur tohor dengan dosis 15 gr/0,07 meter persegi sampah organik, kemudian di atasnya dipasang alat perangkap lalat (flay trap) pada tumpukan tiap-tiap sampel tersebut.
Hasil eksperimen awal, ternyata setelah disimpan selama empat jam, pada sampel sampah yang tidak dibubuhkan kapur tohor didapat jumlah lalat rumah dan hijau yang hinggap hingga terperangkap pada flay trap adalah sebanyak 88 ekor. Sedangkan pada sampel sampah organik yang dibubuhi kapur tohor didapat jumlah lalat rumah dan lalat hijau yang hinggap hingga terperangkap pada flay trap yaitu sebanyak 24 ekor. Dari praeksperimen ini menunjukkan bahwa ada perbedaan pada sampah yang dibubuhi kapur tohor itu.
Dari sini, penelitian dilanjutkan dengan mengambil berbagai dosis kapur tohor per 0,07 m2 sampah yang akan diteliti, yaitu: sebanyak 10 gr; 15 gr; 20 gr; dan 25 gr, serta sampel sampah yang tidak dibubuhkan kapur tohor. Hasil yang didapat ternyata, rata-rata lalat yang hinggap pada sampah organik tanpa pembubuhan kapur tohor adalah 51 ekor. Sedangkan rata-rata jumlah lalat yang hinggap pada sampah organik dengan pembubuhan berbagai dosis kapur tohor, yaitu dosis 10 gr didapat sebanyak 22 ekor lalat; dosis 15 gr didapat 8 ekor lalat; dosis 20 gr didapat 4 ekor lalat; dan dosis 25 gr didapat 1 ekor lalat.
Jadi, secara jelas ada perbedaan jumlah lalat yang hinggap pada sampah yang menggunakan pembubuhan kapur tohor dengan sampah organik yang tidak menggunakan kapur tohor. ***
Arda Dinata
Penulis adalah dosen di Akademi Kesehatan Lingkungan (AKL) Kutamaya.
Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia,
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca
Tulis Komentar di Bawah ini!