📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
PERSAHABATAN dengan sesama manusia ini merupakan aktualisasi dan penjabaran dari buah bentuk persahabatan sebelumnya [Menjalin persahabatan dengan Allah; Menjalin Persahabatan dengan Dirinya Sendiri]. Aktivitas persahabatan yang ketiga ini, akan menentukan catatan-catatan amaliah di dunia. Apakah baik-buruk, bahagia-sedih, sukses-gagal, dan sejenisnya.
Untuk itu, tidak setiap orang patut dijadikan sahabat kita. Nabi Saw. bersabda, “Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan temannya.”
Dalam hal ini, Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin menyebutkan bahwa haruslah dipertimbangkan sejumlah perkara. Yakni, ia harus seorang yang berakal. Berakhlak baik, tidak berambisi atas keduniaan. Adapun akal, ia adalah modal.
Oleh karena itu, kata Al Ghazali bahwa memutus hubungan dengan orang dungu adalah pendekatan dengan Allah. Begitu pula orang fasik tidak ada faedahnya bila berteman dengannya, karena siapa yang takut Allah, ia pun tidak terus menerus melakukan dosa besar, dan siapa yang tidak takut kepada Allah, maka ia pun suka mengganggu orang lain.
Dalam hal ini, Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Walau demikian, sesungguhnya setiap mukmin terdapat sifat, cita-cita dan aqidah. Maka seharusnya secara otomatis persahabatan akan tercipta sebagai akibat dari suatu karakter dari keimanan mereka. Allah menyebutkan dalam suatu firma-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara ….” (QS. Al-Hujuraat:10).
Sifat yang lazim dari konsekuensi keimanan itu akan melahirkan ukhuwwah fillah (persaudaraan karena Allah). Dan ini merupakan perangai yang cocok sebagai teman bagi ketaqwaan. Dengan demikian, maka tidak ada persahabatan sejati tanpa adanya iman dan tidak adanya iman tanpa adanya persahabatan.
Pada konteks ini, Al Ustadz Husnie Adham Jarror dalam bukunya Al Ukhuwwah Wal Hubb Fillah menuliskan, jika anda mendapati suatu persaudaraan yang dibelakangnya tidak didukung oleh keimanan maka akan anda dapati bahwa persaudaraan senacam itu tidak akan membawa kemaslahatan dan manfaat yang saling timbal balik. Begitu juga jika anda dapati keimanan (iman) yang tidak didukung oleh persaudaraan maka bisa anda simpulkan bahwa betapa rendah kadar keimanan itu yang bahkan justru mengarahkan kepada keterjerumusan.
Berkait dengan persahabatan karena Allah dengan kasih sayang dan kebaikan, diriwayatkn oleh Ibnu Abbas ra. Bahwa Nabi Saw. bersabda: “Sekuat-kuat iman adalah persaudaraan karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).
Indahnya persahabatan karena Allah ini, telah dicontohkan para sahabat Rasulullah Saw. Kisah ini terjadi ketika Perang Yarmuk, yaitu antara Ikrimah, Suhail bin Amru, dan Harits bin Hisyam. Diwaktu mereka dalam keadaan kritis (karena terluka dalam peperangan) kepada mereka disampaikan minumn, akan tetapi mereka semuanya menolak karena saling ingin mendahulukan saudaranya sehingga akhirnya mereka semua syahid karenanya.
Ceritanya, ketika minum itu ditawarkan kepada salah seorang diantara mereka, ia berkata: “Berikan saja minum itu kepada si fulan …” Sampai akhirnya mereka gugur semua, sedang mereka belum sempat meminumnya. Ketika Ikrimah menerima air tersebut, dia sempat melihat Suhail, kemudian ia berkata: “Berikan saja kepada Suhail dulu.” Ketika Suhail, hendak minum, ia sempat melihat Harist memperhatikannya, kemudian ia berkata: “Berikan saja pada Harits dulu.” Namun belum pun air itu sampai kepada Harits, ia pun keburu gugur.
Sungguh indah dan luar biasa, apabila kita dapat mempraktekkan hakekat dari kisah persahabatan di atas. Bentuk persahabatan antara sesama manusia itu, misalnya bisa dengan kedua orang tua (baca: seperti dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. saat akan mengorbankan anaknya, Nabi Ismail as.), saudara, teman, suami-istri, dan sejenisnya.
Bagaimana menurut Anda?
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com
Untuk itu, tidak setiap orang patut dijadikan sahabat kita. Nabi Saw. bersabda, “Manusia itu mengikuti kebiasaan temannya, maka hendaklah seseorang dari kamu melihat siapa yang akan dijadikan temannya.”
Oleh karena itu, kata Al Ghazali bahwa memutus hubungan dengan orang dungu adalah pendekatan dengan Allah. Begitu pula orang fasik tidak ada faedahnya bila berteman dengannya, karena siapa yang takut Allah, ia pun tidak terus menerus melakukan dosa besar, dan siapa yang tidak takut kepada Allah, maka ia pun suka mengganggu orang lain.
Dalam hal ini, Allah berfirman yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingat Kami serta menuruti hawa nafsunya.” (QS. Al-Kahfi: 28).
Walau demikian, sesungguhnya setiap mukmin terdapat sifat, cita-cita dan aqidah. Maka seharusnya secara otomatis persahabatan akan tercipta sebagai akibat dari suatu karakter dari keimanan mereka. Allah menyebutkan dalam suatu firma-Nya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara ….” (QS. Al-Hujuraat:10).
Sifat yang lazim dari konsekuensi keimanan itu akan melahirkan ukhuwwah fillah (persaudaraan karena Allah). Dan ini merupakan perangai yang cocok sebagai teman bagi ketaqwaan. Dengan demikian, maka tidak ada persahabatan sejati tanpa adanya iman dan tidak adanya iman tanpa adanya persahabatan.
Pada konteks ini, Al Ustadz Husnie Adham Jarror dalam bukunya Al Ukhuwwah Wal Hubb Fillah menuliskan, jika anda mendapati suatu persaudaraan yang dibelakangnya tidak didukung oleh keimanan maka akan anda dapati bahwa persaudaraan senacam itu tidak akan membawa kemaslahatan dan manfaat yang saling timbal balik. Begitu juga jika anda dapati keimanan (iman) yang tidak didukung oleh persaudaraan maka bisa anda simpulkan bahwa betapa rendah kadar keimanan itu yang bahkan justru mengarahkan kepada keterjerumusan.
Berkait dengan persahabatan karena Allah dengan kasih sayang dan kebaikan, diriwayatkn oleh Ibnu Abbas ra. Bahwa Nabi Saw. bersabda: “Sekuat-kuat iman adalah persaudaraan karena Allah, cinta karena Allah, dan membenci karena Allah.” (HR. Thabrani dari Ibnu Abbas).
Indahnya persahabatan karena Allah ini, telah dicontohkan para sahabat Rasulullah Saw. Kisah ini terjadi ketika Perang Yarmuk, yaitu antara Ikrimah, Suhail bin Amru, dan Harits bin Hisyam. Diwaktu mereka dalam keadaan kritis (karena terluka dalam peperangan) kepada mereka disampaikan minumn, akan tetapi mereka semuanya menolak karena saling ingin mendahulukan saudaranya sehingga akhirnya mereka semua syahid karenanya.
Ceritanya, ketika minum itu ditawarkan kepada salah seorang diantara mereka, ia berkata: “Berikan saja minum itu kepada si fulan …” Sampai akhirnya mereka gugur semua, sedang mereka belum sempat meminumnya. Ketika Ikrimah menerima air tersebut, dia sempat melihat Suhail, kemudian ia berkata: “Berikan saja kepada Suhail dulu.” Ketika Suhail, hendak minum, ia sempat melihat Harist memperhatikannya, kemudian ia berkata: “Berikan saja pada Harits dulu.” Namun belum pun air itu sampai kepada Harits, ia pun keburu gugur.
Sungguh indah dan luar biasa, apabila kita dapat mempraktekkan hakekat dari kisah persahabatan di atas. Bentuk persahabatan antara sesama manusia itu, misalnya bisa dengan kedua orang tua (baca: seperti dicontohkan oleh Nabi Ibrahim as. saat akan mengorbankan anaknya, Nabi Ismail as.), saudara, teman, suami-istri, dan sejenisnya.
Bagaimana menurut Anda?
Arda Dinata, pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam/ MIQRA Indonesia, www.miqraindonesia.com
Tags
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca
Tulis Komentar di Bawah ini!