📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Oleh Arda Dinata
Dalam tarikh Islam, ada kisah yang menarik direnungi berkait dengan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Dikisahkan, sebelum terjadi perang qadisiyah, Ruba’i bin Amir, salah seorang prajurit muslim yang dikirim untuk menghadap Panglima Rustum, yang memimpin pasukan Persia kala itu.
Pada waktu, Ruba’i masuk ke perkemahan Panglima Rustum, ia dapatkan semua pembesarnya berpakaian kenegaraan, sedangkan majelisnya dihiasi dengan permadani dan sutra yang serba mahal. Panglima Rustum duduk di singgasana emas dan bermahkotakan emas yang dihiasi dengan batu permata yang serba mahal.
Sementara itu, Ruba’i bin Amir hanya berpakaian sederhana sekali. Dengan menyandang perisai dan menunggang kuda, ia masuk ke dalam perkemahan itu tanpa menghiraukan sedikit pun keadaan sekelilingnya. Ia masuk terus ke dalam dengan tetap menunggang kudanya dan membiarkannya kaki kuda itu mengotori hamparan permandani yang serba mahal itu. Lalu, Ruba’i turun dari kudanya dan ia tambatkan pada salah satu bantal yang ada di dekatnya. Dan dengan segera ia menghadap Panglima Rustum dengan tetap menyandang senjata dan perisainya.
Melihat itu, para pembesar itu segera berseru, “Letakan senjata itu!”
Ruba’i menjawab, ”Aku datang kemari tidak lain hanyalah atas undangan kalian. Jika kalian senang biarkan aku dalam keadaanku, seperti ini, atau kalau tidak aku akan pulang”.
“Biarkan ia menghadap!” kata Panglima Rustum.
Akhirnya, Ruba’i menghadap Panglima Rustum, dengan tombaknya masuk hamparan permandani. Dan seketika itu pula hamparan itu koyak-koyak. Mereka bertanya, “Apakah yang mendorongmu masuk daerah kami?”
“Allah SWT telah mengutus kami untuk membebaskan manusia dari memperhambakan diri kepada selain Allah, dan melepaskan belenggu duniawi menuju dunia bebas, dan dari agama yang sesat menuju keadilan Islam”.
Dari dialog Ruba’i bin Amir di atas, sesungguhnya telah mengajarkan kita akan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Artinya kemerdekaan Indonesia itu harus kita maknai sebagai aplikasi dari tauhid kemerdekaan manusia. Di mana, setiap manusia itu sesungguhnya telah dimerdekakan dari penghambaan pada materi, penghambaan kepada hawa nafsu dan hal-hal duniawi untuk diantarkan kepada penghambaan total kepada Allah semata-mata. Inilah arti kemerdekaan yang Islam ajarkan.
Allah berfirman dalam QS. Al-An’aam: 162-163, yang artinya: “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
Jadi, seluruh rakyat Indonesia sudah saatnya untuk menerapkan arti kemerdekaan itu secara tepat. Bukankah, seseorang (bangsa) baru dikatakan merdeka ketika ia mampu melepaskan dirinya dari segala perbudakan dan segera untuk suka cita menghamba kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://www.miqra.blogspot.com
Dalam tarikh Islam, ada kisah yang menarik direnungi berkait dengan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Dikisahkan, sebelum terjadi perang qadisiyah, Ruba’i bin Amir, salah seorang prajurit muslim yang dikirim untuk menghadap Panglima Rustum, yang memimpin pasukan Persia kala itu.
Pada waktu, Ruba’i masuk ke perkemahan Panglima Rustum, ia dapatkan semua pembesarnya berpakaian kenegaraan, sedangkan majelisnya dihiasi dengan permadani dan sutra yang serba mahal. Panglima Rustum duduk di singgasana emas dan bermahkotakan emas yang dihiasi dengan batu permata yang serba mahal.
Sementara itu, Ruba’i bin Amir hanya berpakaian sederhana sekali. Dengan menyandang perisai dan menunggang kuda, ia masuk ke dalam perkemahan itu tanpa menghiraukan sedikit pun keadaan sekelilingnya. Ia masuk terus ke dalam dengan tetap menunggang kudanya dan membiarkannya kaki kuda itu mengotori hamparan permandani yang serba mahal itu. Lalu, Ruba’i turun dari kudanya dan ia tambatkan pada salah satu bantal yang ada di dekatnya. Dan dengan segera ia menghadap Panglima Rustum dengan tetap menyandang senjata dan perisainya.
Melihat itu, para pembesar itu segera berseru, “Letakan senjata itu!”
Ruba’i menjawab, ”Aku datang kemari tidak lain hanyalah atas undangan kalian. Jika kalian senang biarkan aku dalam keadaanku, seperti ini, atau kalau tidak aku akan pulang”.
“Biarkan ia menghadap!” kata Panglima Rustum.
Akhirnya, Ruba’i menghadap Panglima Rustum, dengan tombaknya masuk hamparan permandani. Dan seketika itu pula hamparan itu koyak-koyak. Mereka bertanya, “Apakah yang mendorongmu masuk daerah kami?”
“Allah SWT telah mengutus kami untuk membebaskan manusia dari memperhambakan diri kepada selain Allah, dan melepaskan belenggu duniawi menuju dunia bebas, dan dari agama yang sesat menuju keadilan Islam”.
Dari dialog Ruba’i bin Amir di atas, sesungguhnya telah mengajarkan kita akan arti kemerdekaan yang sesungguhnya. Artinya kemerdekaan Indonesia itu harus kita maknai sebagai aplikasi dari tauhid kemerdekaan manusia. Di mana, setiap manusia itu sesungguhnya telah dimerdekakan dari penghambaan pada materi, penghambaan kepada hawa nafsu dan hal-hal duniawi untuk diantarkan kepada penghambaan total kepada Allah semata-mata. Inilah arti kemerdekaan yang Islam ajarkan.
Allah berfirman dalam QS. Al-An’aam: 162-163, yang artinya: “Sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
Jadi, seluruh rakyat Indonesia sudah saatnya untuk menerapkan arti kemerdekaan itu secara tepat. Bukankah, seseorang (bangsa) baru dikatakan merdeka ketika ia mampu melepaskan dirinya dari segala perbudakan dan segera untuk suka cita menghamba kepada Allah SWT. Wallahu a’lam.
Penulis Pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia.
http://www.miqra.blogspot.com
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca
Tulis Komentar di Bawah ini!