📖 Baca Bab Ini & Happy Reading!
Oleh ARDA DINATA
MANUSIA dalam hidupnya butuh daya tahan tubuh (imunitas). Kondisi imunitas ini dipengaruhi oleh keadaan psikis dan suasana hati seseorang. Kedua hal tersebut sangat menentukan dalam mencapai ketentraman hati.
Untuk mencapai ketentraman hati, orang banyak melakukan caranya sendiri-sendiri. Bahkan, sebagian masyarakat ada pula yang melakukan meditasi untuk mendapatkan ketengan hati. Padahal dalam Alquran Allah SWT telah memberikan jalan untuk mencapainya.
Bagi umat Islam sendiri, ketentraman hati dapat diperoleh melalui dzikir (mengingat Allah). Allah SWT berfirman, “…. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Hakikat dzikir berarti ingat kepada Allah SWT. Manusia yang selalu ingat kepada Allah SWT, hatinya akan merasa tentram dan damai. Dampaknya, manusia yang hatinya merasa tentram dan damai akan memiliki pikiran jernih dan dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kalangan medis menjelaskan, manusia yang senantiasa melakukan dzikir, hatinya akan menjadi tenteram, pikirannya jernih dan emosinya stabil. Lebih jauh, tubuhnya pun akan sehat dan bagi orang yang sakit, dzikir akan merangsang tubuh menyembuhkan dirinya sendiri.
Dzikir pun menyebabkan tercapainya kondisi keseimbangan otak (homeostatik). Artinya hipotalamus sebagai sentral otak akan bereaksi meningkatkan fungsi hormon. Pada keadaan semacam ini, antibodi pada tubuh manusia akan bereaksi dan bekerja secara optimal. Kondisi ini akan merangsang tubuh menyembuhkan diri sendiri.
Jadi, daya tahan tubuh (imunitas) seseorang itu dapat ditingkatkan dengan dzikir disertai keyakinan, afirmasi, imaginatif dan relaksasi.
Dari sini, manusia yang diberkati dengan akal-pikiran harusnya memandang dzikir (mengingat Allah) merupakan kebutuhannya. Bermodal pengetahuan tersebut, maka ia memandang dzikir sebagai metode paling efektif untuk menentramkan hati.
Apalagi, dewasa ini kancah kehidupan sarat dengan persaingan yang kadang memunculkan banyak orang yang mengalami apatis, demotivasi, khawatir, kecemasan, frustasi, dan stress. Dalam situasi inilah, bagi orang mukmin seharusnya lebih merasa penting untuk selalu mengingat Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran.
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah Allah) dengan dzikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Hazab: 41-42).
Makna “mengingat” Allah di atas, menurut Mujahid, adalah apa saja yang tidak bisa dilupakan dalam keadaan bagaimanapun (baca: terus-menerus mengingat). Dalam Alquran diungkapkan, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring ….” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Dalam menjelaskan QS. Ali ‘Imran: 191, Ibn Abbas mengatakan, “Mengingat Allah diperintahkan dalam keadaan siang dan malam hari, di darat dan di lautan, selama dalam perjalanan, disaat kelapangan dan kesempitan, disaat sakit dan sehat, secara lahiriah dan batiniah”.
Pada bagian lain Alquran menyebutkan, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kamu, ….” (QS. Al-Baqarah: 152). Bagi mereka yang mampu melakukan hal ini, Allah SWT telah menjanjikan ampunan dan pahala.
“…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Ibnu Ata, seorang sufi yang menulis al-Hikam, membagi dzikir dalam tiga bagian. Pertama, dzikir Jalie. Yaitu suatu amal ibadah mengingat Allah SWT dalam bentuk ucapan-ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur, dan doa kepada Allah SWT yang lebih merupakan suara yang jelas untuk menuntut gerak hati. Misalanya, mengucapkan tahlil (kalimat La ilaha illa Allah), tasbih (kalimat Subhanallah), membaca Alquran dan doa lainnya.
Kedua, dzikir khafi. Yakni dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik dzikir lisan ataupun tidak. Orang yang melakukan dzikir ini, hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah SWT. Ia selalu merasakan kehadiran-Nya kapan dan di mana saja.
Ketiga, dzikir hakiki. Yaitu dzikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah, kapan dan di mana saja, dengan memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari larangan-Nya dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Untuk mencapai tingkatan dzikir hakiki ini perlu latihan-latihan mulai dari dzikir Jalie dan Khafi.
Akhirnya bagi manusia berakal dan beriman, tentu tidak akan mensia-siakan kesempatan yang diberikan Allah SWT seperti itu. Lebih-lebih dzikir ini dapat kita lakukan setiap saat. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
MANUSIA dalam hidupnya butuh daya tahan tubuh (imunitas). Kondisi imunitas ini dipengaruhi oleh keadaan psikis dan suasana hati seseorang. Kedua hal tersebut sangat menentukan dalam mencapai ketentraman hati.
Untuk mencapai ketentraman hati, orang banyak melakukan caranya sendiri-sendiri. Bahkan, sebagian masyarakat ada pula yang melakukan meditasi untuk mendapatkan ketengan hati. Padahal dalam Alquran Allah SWT telah memberikan jalan untuk mencapainya.
Bagi umat Islam sendiri, ketentraman hati dapat diperoleh melalui dzikir (mengingat Allah). Allah SWT berfirman, “…. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tentram.” (QS. Ar-Ra’d: 28).
Hakikat dzikir berarti ingat kepada Allah SWT. Manusia yang selalu ingat kepada Allah SWT, hatinya akan merasa tentram dan damai. Dampaknya, manusia yang hatinya merasa tentram dan damai akan memiliki pikiran jernih dan dapat mengendalikan emosinya dengan baik.
Oleh karena itu, tidak berlebihan kalau kalangan medis menjelaskan, manusia yang senantiasa melakukan dzikir, hatinya akan menjadi tenteram, pikirannya jernih dan emosinya stabil. Lebih jauh, tubuhnya pun akan sehat dan bagi orang yang sakit, dzikir akan merangsang tubuh menyembuhkan dirinya sendiri.
Dzikir pun menyebabkan tercapainya kondisi keseimbangan otak (homeostatik). Artinya hipotalamus sebagai sentral otak akan bereaksi meningkatkan fungsi hormon. Pada keadaan semacam ini, antibodi pada tubuh manusia akan bereaksi dan bekerja secara optimal. Kondisi ini akan merangsang tubuh menyembuhkan diri sendiri.
Jadi, daya tahan tubuh (imunitas) seseorang itu dapat ditingkatkan dengan dzikir disertai keyakinan, afirmasi, imaginatif dan relaksasi.
Dari sini, manusia yang diberkati dengan akal-pikiran harusnya memandang dzikir (mengingat Allah) merupakan kebutuhannya. Bermodal pengetahuan tersebut, maka ia memandang dzikir sebagai metode paling efektif untuk menentramkan hati.
Apalagi, dewasa ini kancah kehidupan sarat dengan persaingan yang kadang memunculkan banyak orang yang mengalami apatis, demotivasi, khawatir, kecemasan, frustasi, dan stress. Dalam situasi inilah, bagi orang mukmin seharusnya lebih merasa penting untuk selalu mengingat Allah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Alquran.
“Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (ingatlah Allah) dengan dzikir sebanyak-banyaknya dan bertasbihlah kepada-Nya pagi dan petang.” (QS. Al-Hazab: 41-42).
Makna “mengingat” Allah di atas, menurut Mujahid, adalah apa saja yang tidak bisa dilupakan dalam keadaan bagaimanapun (baca: terus-menerus mengingat). Dalam Alquran diungkapkan, “(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah dalam keadaan berdiri, duduk, berbaring ….” (QS. Ali ‘Imran: 191).
Dalam menjelaskan QS. Ali ‘Imran: 191, Ibn Abbas mengatakan, “Mengingat Allah diperintahkan dalam keadaan siang dan malam hari, di darat dan di lautan, selama dalam perjalanan, disaat kelapangan dan kesempitan, disaat sakit dan sehat, secara lahiriah dan batiniah”.
Pada bagian lain Alquran menyebutkan, “Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepada kamu, ….” (QS. Al-Baqarah: 152). Bagi mereka yang mampu melakukan hal ini, Allah SWT telah menjanjikan ampunan dan pahala.
“…laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 35).
Ibnu Ata, seorang sufi yang menulis al-Hikam, membagi dzikir dalam tiga bagian. Pertama, dzikir Jalie. Yaitu suatu amal ibadah mengingat Allah SWT dalam bentuk ucapan-ucapan lisan yang mengandung arti pujian, rasa syukur, dan doa kepada Allah SWT yang lebih merupakan suara yang jelas untuk menuntut gerak hati. Misalanya, mengucapkan tahlil (kalimat La ilaha illa Allah), tasbih (kalimat Subhanallah), membaca Alquran dan doa lainnya.
Kedua, dzikir khafi. Yakni dzikir yang dilakukan secara khusyuk oleh ingatan hati, baik dzikir lisan ataupun tidak. Orang yang melakukan dzikir ini, hatinya merasa senantiasa memiliki hubungan dengan Allah SWT. Ia selalu merasakan kehadiran-Nya kapan dan di mana saja.
Ketiga, dzikir hakiki. Yaitu dzikir yang dilakukan oleh seluruh jiwa raga, lahiriah dan batiniah, kapan dan di mana saja, dengan memperketat upaya untuk memelihara seluruh jiwa raga dari larangan-Nya dan mengerjakan yang diperintahkan-Nya. Untuk mencapai tingkatan dzikir hakiki ini perlu latihan-latihan mulai dari dzikir Jalie dan Khafi.
Akhirnya bagi manusia berakal dan beriman, tentu tidak akan mensia-siakan kesempatan yang diberikan Allah SWT seperti itu. Lebih-lebih dzikir ini dapat kita lakukan setiap saat. Wallahu’alam.***
Arda Dinata adalah pendiri Majelis Inspirasi Alquran dan Realitas Alam (MIQRA) Indonesia, http://www.miqra.blogspot.com.
Tags
Daftar Bab
Memuat bab...
Daftar Bab
Memuat bab...
📚 Koleksi Ebook
Karya Pilihan Arda Dinata
Tersedia di Google Play Books — klik untuk membaca atau membeli
Menampilkan 47 judul ebook
Identifikasi Tikus, Pinjal, dan Kecoa
Beli / BacaBersahabat Dengan Nyamuk
Beli / BacaRahasia Daya Tahan Hidup Nyamuk DBD
Beli / BacaMembongkar Rahasia Bionomik Nyamuk Anopheles
Beli / BacaPendekatan Kesehatan Lingkungan Pengendalian DBD
Beli / BacaBersahabat Dengan Malaria
Beli / BacaAtasi Penyakit Skabies
Beli / BacaSanitasi Atasi Stunting
Beli / BacaStandar Baku Mutu Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaRahasia Kimia Cinta
Beli / BacaKesehatan Ibu & Anak
Beli / BacaMenguasai Kecerdasan Buatan (AI) Untuk Pemula
Beli / BacaSMART Sanitation
Beli / BacaPola Makan Sehat di Era Digital
Beli / BacaDunia Sanitasi Lingkungan
Beli / BacaManusia dan Lingkungan
Beli / BacaKepemimpinan & Komunikasi Manajemen Proyek
Beli / BacaKeperawatan Jiwa
Beli / BacaDasar-Dasar Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaEpidemiologi Kesehatan Lingkungan
Beli / BacaKesehatan Alat Makan
Beli / BacaProduktif Menulis Artikel Kesehatan
Beli / BacaMindmap Penulisan Buku
Beli / BacaMenjadi Penulis Mandiri
Beli / BacaStrategi Produktif Menulis
Beli / BacaCreative Writing & Writerpreneurship
Beli / BacaMembangun Keluarga Berkualitas
Beli / BacaKebijaksanaan Hidup Orang Sunda
Beli / BacaKeluarga Penuh Cinta
Beli / BacaMelapangkan Kebahagiaan Perkawinan
Beli / BacaPernikahan Berkalung Pahala
Beli / BacaMengikat Cinta Kasih
Beli / BacaSurga Perkawinan
Beli / BacaIbu: Cinta Yang Tak Berbatas
Beli / BacaAyahku, Guruku, Guru Kami
Beli / BacaCerdas & Bahagia Menghadapi Masa Pensiun
Beli / BacaRETAKAN
Beli / BacaPecahan Cinta
Beli / BacaWhispers of the Sunset
Beli / BacaEpos Aurora: Petualangan di Alam Semesta
Beli / BacaMelangkah Dalam Cahaya (Prinsip Hidup Ala Rasulullah)
Beli / BacaMenjadi Orang Bahagia
Beli / BacaMerajut Cinta Allah
Beli / BacaPemberdayaan Majelis Taklim
Beli / BacaBermesraan Dengan Kebaikan
Beli / BacaDear Friend
Beli / BacaTaman-Taman Kebeningan Hati
Beli / Baca
makasih infonya dan salam sukses selalu aamiin...
BalasHapus